Sore tadi aku ikut mengantar pemakaman ayah tetangga di TPU Pondok Ranggoon. Meskipun ini bukan kali pertama aku ikut pergi ke TPU, namun pemandangan di TPU pondok Ranggon membuatku sedikit terhenyak. TPU terluas di DKI ini rupanya sudah ditata sedemikian rupa sehingga tidak berkesan seram. Sejauh mata pemandangan dipenuhi rumput hijau dan bunga-bunga di atas pusara. Hampir tidak dapat ditemui pohon kamboja dan pusara bermarmer atau berbatu pualam. Pedagang makanan minuman juga banyak yang berjualan di sepanjang jalan di areal komplek pemakaman. Bahkan anak-anak yang ikut orang tuanya berziarah berlarian ceria sedikitpun tanpa rasa takut. Serombongan anak muda usia SMA mendatangi satu pusara (mungkin temennya yang belum lama meninggal, terlihat dari tanggal di nisan). Aku dengar mereka berdo'a dengan berkata "untuk temanku si ......(mereka sebut namanya), semoga engkau tenang disisiNya." Setelah itu mereka berlalu dengan ceria dan bercanda.
Pemandangan itu membuatku merasa agak aneh. Bunga-bunga beraneka warna yang ada di atas pusara itu ternyata adalah bunga plastik. Sekali lagi bunga plastik. Baru kali ini aku melihat bunga-bunga plastik menghiasi pusara di TPU. Apa alasannya? Apa tujuannya? menghiasi pusara dengan bunga plastik. Apakah ini aturan pemda DKI? atau hanya gejala ikut-ikutan karena melihat pusara lain dihiasi bunga plastik. Sungguh aku merasa heran dan bertanya-tanya.
Teringat satu kisah di zaman Nabi, Rasulullah Muhammad SAW bersama sahabat-sahabatnya sedang berjalan-jalan. Ketka rombongan tersebut melalui makam seorang muslim, Rasulullah berhenti dan berdo'a di makam tersebut. Sembari itu, Rasulullah memetik beberapa helai daun korma dan menaruhnya di sisi kepala pusara. Rasulullah berdo'a, semoga arwah si mayit mendapat keringanan siksa kubur hingga daun-daun korma ini mengering. Sejalan dengan kisah itu, ada tradisi di negara kita membawa bunga ketika berziarah ke makam. Aneka bunga hidup itu disebar di atas pusara sambil tak lupa memanjatkan do'a.
Kembali ke bunga plastik itu, aku masih belum bisa mengerti apa maksudnya. Yang pasti bukan untuk meneladani Rasulullah seperti kisah di atas. Atau, untuk mengingat kematian, seperti diriwayatkan dalam sebuah hadits ketika Rasulullah menganjurkan kita berziarah kubur dengan tujuan untuk mengingat kematian. Sepertinya memang tujuannya hanya untuk keindahan dan agar tidak menyeramkan. Sunggguh tujuan yang kering sekering bunga plastik. Keindahan yang menipu tanpa makna. Sangat jauh dari anjuran Rasulullah untuk mengingat kemana kita semua akan kembali dengan berdo'a seperti di bawah ini ketika berziarah kubur.
Assalâmu ‘alâ ahlid diyâr, minal mu’minîna wal muslimîn, antum lanâ farthun, wa nahnu insyâallâhu bikum lâhiqûn.
Artinya: "Salam atas para penghuni kubur, mukminin dan muslimin, engkau telah mendahului kami, dan insya Allah kami akan menyusulmu."
Ya Allah lindungi kami dari segala hal yang menjauhkan kami dariMu. Aamiin.
Arcadia, malam senin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar