Anak itu, sebut saja namanya Rina, mulai berkaca-kaca saat ditanya guru tentang foto-foto mesranya bersama pacar ditemukan di hand phonenya yang disita. "Kalau kamu sudah menikah, kamu boleh berfoto seperti itu dengan suamimu", tandas pak guru yang juga ustadz itu. "Kalau cuma pacaran, perbuatanmu itu dosa". tandas pak guru. "Kamu kan juga anak OSIS harusnya bisa jadi teladan teman-teman kamu". "Sudah sekarang kamu ke ruang BK, temuin pembimbing akademik dan guru BK". Ujar pak guru itu mengakhiri.
Itu bukan penggalan kisah dalam sinetron, itu kisah nyata. Aku yang duduk di seberang meja pak guru, mendengar semua pembicaraan itu. Dan itu bukan hanya kali ini saja. 'Fenomena' ini tentu mencemaskan kami para guru dan tentu lebih-lebih orang tua para remaja. Jika ditanyakan kepada remaja, mungkin jawabannya lebih banyak yang pernah atau sedang berpacaran dibanding yang tidak. Bagaimana kita para guru dan orang tua mensikapi fenomena ini.
Melarang remaja sama saja dengan memyiram bensin ke dalam api yang membuatnya makin berkobar. Membiarkannya tentu saja salah. Tugas orang tua dan guru adalah mendidik anak-anak/siswanya menjadi waladun sholih yang pahalanya kekal hingga akhirat. Disebut waladun bukan bintun/bin menandakan tugas mendidik tidak saja kewajiban orang tua kandung tetapi juga orang tua bukan kandung termasuk guru yang mendapat amanah pendidikan seorang anak.
Kembali ke fenomena pacaran seperti di atas, bagaimana mensikapinya. Mengamati beberapa siswa yang menunjukkan perilaku berpacaran berlebihan, dapat diketahui bahwa faktor pendidikan dari kecil, kualitas hubungan ortu-anak, juga pandangan orang tua tentang pacaran cukup berperan. 'Kasus' Rina di atas, menurut pengakuan anaknya, orang tua menyetujui anaknya berpacaran bahkan memberi ijin jika mereka hendak pergi berduaan. Setelah dikonfirmasi ke orang tua, mereka membenarkan meskipun tidak menyangka dan menyesalkan perilaku berpacaran anaknya seperti ditunjukkan dalam foto-foto itu.
Remaja, sesuai dengan perkembangan fisik dan psikologisnya memang wajar jika mulai tertarik dengan lawan jenis. namun tertarik dengan lawan jenis tidak harus dilalui dengan pacaran. Tugas orang tua dan guru dari sejak anak-anak masih kecil adalah menanamkan mana perbuatan yang boleh mana yang dilarang. Lebih dari itu, orang tua/guru harus menjadi teladan perilaku bagi anak-anaknya. Tidak mungkin melarang anak yang sudah remaja tanpa diawali pendidikan dari kecil. Selain itu orang tua/guru perlu mempersiapkan kelebihan energi yang akan dialami anaknya ketika sudah remaja dengan membekali anak-anak kegiatan-kegiatan yang positif. Khusus untuk anak-anak laki-laki dari kecil harus dilatih untuk aktivitas fisik yang rutin, sehingga di saat remaja mereka bisa menyalurkan kelebihan energi pada aktivitas fisik yang menguras energi.
Pada akhirnya jika remaja menunjukkan tanda-tanda berpacaran, alangkah baiknya jika ortu/guru tak segan mengingatkan mereka untuk tidak berduaan. Jika tahapnya sudah sulit dikendalikan, ada baiknya menawarkan 'pernikahan dini'. Dalam kondisi ini ortu memang mau tidak mau masih harus membantu ekonomi keluarga kecil mereka. Meski ekstrim, keselamatan di akhirat lebih utama daripada sekedar menerima pandangan manusia.
Lebih dari itu, mari para orang tua dan guru untuk senantiasa memperbaiki diri sehingga bisa menjadi teladan bagi anak-anak/murid kita. Tak lupa, mari kita selalu memohon pertolongan dan perlindungan Allah agar anak-anak kita terhindar dari godaan setan dan senantiasa dalam lindungan dan kasih sayang Allah.
Wallahu'alam
Itu bukan penggalan kisah dalam sinetron, itu kisah nyata. Aku yang duduk di seberang meja pak guru, mendengar semua pembicaraan itu. Dan itu bukan hanya kali ini saja. 'Fenomena' ini tentu mencemaskan kami para guru dan tentu lebih-lebih orang tua para remaja. Jika ditanyakan kepada remaja, mungkin jawabannya lebih banyak yang pernah atau sedang berpacaran dibanding yang tidak. Bagaimana kita para guru dan orang tua mensikapi fenomena ini.
Melarang remaja sama saja dengan memyiram bensin ke dalam api yang membuatnya makin berkobar. Membiarkannya tentu saja salah. Tugas orang tua dan guru adalah mendidik anak-anak/siswanya menjadi waladun sholih yang pahalanya kekal hingga akhirat. Disebut waladun bukan bintun/bin menandakan tugas mendidik tidak saja kewajiban orang tua kandung tetapi juga orang tua bukan kandung termasuk guru yang mendapat amanah pendidikan seorang anak.
Kembali ke fenomena pacaran seperti di atas, bagaimana mensikapinya. Mengamati beberapa siswa yang menunjukkan perilaku berpacaran berlebihan, dapat diketahui bahwa faktor pendidikan dari kecil, kualitas hubungan ortu-anak, juga pandangan orang tua tentang pacaran cukup berperan. 'Kasus' Rina di atas, menurut pengakuan anaknya, orang tua menyetujui anaknya berpacaran bahkan memberi ijin jika mereka hendak pergi berduaan. Setelah dikonfirmasi ke orang tua, mereka membenarkan meskipun tidak menyangka dan menyesalkan perilaku berpacaran anaknya seperti ditunjukkan dalam foto-foto itu.
Remaja, sesuai dengan perkembangan fisik dan psikologisnya memang wajar jika mulai tertarik dengan lawan jenis. namun tertarik dengan lawan jenis tidak harus dilalui dengan pacaran. Tugas orang tua dan guru dari sejak anak-anak masih kecil adalah menanamkan mana perbuatan yang boleh mana yang dilarang. Lebih dari itu, orang tua/guru harus menjadi teladan perilaku bagi anak-anaknya. Tidak mungkin melarang anak yang sudah remaja tanpa diawali pendidikan dari kecil. Selain itu orang tua/guru perlu mempersiapkan kelebihan energi yang akan dialami anaknya ketika sudah remaja dengan membekali anak-anak kegiatan-kegiatan yang positif. Khusus untuk anak-anak laki-laki dari kecil harus dilatih untuk aktivitas fisik yang rutin, sehingga di saat remaja mereka bisa menyalurkan kelebihan energi pada aktivitas fisik yang menguras energi.
Pada akhirnya jika remaja menunjukkan tanda-tanda berpacaran, alangkah baiknya jika ortu/guru tak segan mengingatkan mereka untuk tidak berduaan. Jika tahapnya sudah sulit dikendalikan, ada baiknya menawarkan 'pernikahan dini'. Dalam kondisi ini ortu memang mau tidak mau masih harus membantu ekonomi keluarga kecil mereka. Meski ekstrim, keselamatan di akhirat lebih utama daripada sekedar menerima pandangan manusia.
Lebih dari itu, mari para orang tua dan guru untuk senantiasa memperbaiki diri sehingga bisa menjadi teladan bagi anak-anak/murid kita. Tak lupa, mari kita selalu memohon pertolongan dan perlindungan Allah agar anak-anak kita terhindar dari godaan setan dan senantiasa dalam lindungan dan kasih sayang Allah.
Wallahu'alam
nice artikel nih, bu. sbg guru muda, saya merasa dapet tambahan info/tips dari blog ini.
BalasHapushttp://inarakhmawati.blogspot.com
Tks bu Ina, semoga sukses menjadi guru.
BalasHapusSalam