Kamis, 17 Maret 2016

Berkata Jujur

Berkata jujur itu melegakan. Jika itu suatu kesalahan, jujur mengakui kesalahan membuat kita tidak perlu repot-repot mencari-cari alasan pembenaran kesalahan kita. Membela diri dengan berbagai argumentasi yang sebenarnya semakin meyakinkan bentuk kesalahan kita. Tentu lebih mudah mengatakan: ya, saya salah, dan bersiap menerima resiko kesalahan kita.

Jika itu suatu kebenaran, jujur mengakui apa yang kita anggap benar menguatkan hati dan tidak membuat kita membohongi diri sendiri. Apakah setiap kebenaran harus diungkapkan? Pada kenyataannya, tidak semua kebenaran yang diungkapkan membawa kebaikan. Kita mesti melihat situasi dan kondisi apa, bagaimana, dan kepada siapa kebenaran diungkapkan. Jika kebenaran yang akan kita ungkapkan menyebabkan pihak lain tersinggung, mungkin karena cara mengungkapkannya yang salah. Atau, belum waktunya kebenaran tersebut diungkapkan.Jadi mesti difikirkan bagaimana kebenaran dapat diungkapkan secara benar pula.

Jika itu suatu kelemahan, jujur mengakui kelemahan diri membuat kita paham apa yang mesti diperbaiki. Pengakuan akan kelemahan dan kekurangan diri menjauhkan kita dari sikap sombong dan tinggi hati. Senantiasa meyakini bahwa sehebat apapun kita pasti memiliki kekurangan, demikian juga orang lain. Sehingga kita tidak terjebak pada kekaguman mutlak pada makhluk, maupun rendah diri terhadap kehebatan orang lain.

Jadi, mulai saat ini berkatalah jujur. Minimal terhadap diri sendiri dan terutama kepada Allah.

Salam

Minggu, 10 Januari 2016

Rapor

Saat pembagian rapor menjadi saat yang ditunggu-tunggu oleh siswa dan orang tua siswa tentunya. Rasa harap-harap cemas kerap menghantui siswa sesaat sebelum menerima rapor. Bagi siswa yang pandai, ada rasa harap-harap cemas apakah nilai rapornya lebih baik atau tidak. Bagi siswa yang kurang, ada rasa harap-harap cemas bagaimanakah nilai yang berhasil diraihnya. Apalagi saat penerimaan rapor di semester  dua yang melaporkan naik/tidak naik kelas seorang siswa. Beberapa siswa dihinggapi rasa khawatir tidak naik kelas.

Bagi guru wali kelas seperti saya, saat pembagian rapor juga menjadi saat-saat yang menimbulkan kecemasan. Orang tua siswa berharap guru wali kelas dapat menjawab semua tanda tanya tentang bagaimana anaknya di sekolah. Tidak saja masalah prestasi akademik, semangat belajar, aktivitas kegiatan ekstrakurikuler bahkan terkadang masalah hubungan antar teman dan sebagainya. Sebagian besar orang tua berharap anaknya mendapat nilai bagus di rapor, menempati peringkat 10 besar dan berbagai prestasi lainnya. Hingga terkadang akan memarahi anaknya jika ternyata nilai rapor yang diperoleh anaknya tidak sesuai harapan.

Wali kelas di sekolah menengah atas bukan seperti guru kelas di Sekolah Dasar yang tiap hari mengajar siswanya. Di SMA/MA wali kelas hanya mengajar di jam-jam sesuai bidang studi yang diajarkan saja. Pertemuan di luar jam pelajaran itu hanya bisa sesekali dilakukan di saat jam istirahat atau jika ada jam pelajaran kosong. Dengan jumlah siswa per kelas sebanyak 40 siswa dan intensitas pertemuan yang terbatas, tidak mudah seorang wali kelas dapat mengenal dengan baik masing-masing siswa di kelas binaanya. Dus, menghadapi orang tua dengan segala rasa ingin tahunya saat pembagian rapor menjadi tantangan tersendiri.

Oleh karena itu saat bagi rapor, saya sampaikan ke orang tua bahwa nilai-nilai yang tertera di rapor putra-putri bapak ibu, tidak menjadi jaminan sukses tidaknya kehidupan putra-putri bapak ibu kelak. Bagi bapak/ibu yang nilai rapor anaknya bagus, semoga nilai ini dapat menjadi bekal yang mempermudah langkah kesuksesannya kelak. Bagi bapak/ibu yang nilai rapor anaknya tidak sesuai harapan, mari sama-sama kita kenali potensi anak-anak kita. Insyaa Allah mereka akan sukses sesuai dengan bekal potensinya masing-masing. Dengan begitu, saya berharap setiap orang tua tetap merasa bangga dan bersyukur menerima rapor anaknya dengan apapun raihan yang saat ini diperoleh putra-putrinya.

Wallahu'alam




Kamis, 03 Desember 2015

PUISI

Terhenyak, itulah ekspresi pertamaku saat menerima empat buku kumpulan puisi yang dikirim oleh seorang sahabat lama. Terhenyak, bukan saja karena buku kumpulan puisi ini adalah buku puisi hasil karya sahabat itu, seseorang yang semangat hidupnya menginspirasi. Namun, kesadaran betapa lama aku tak berinteraksi dengan dunia yang satu inilah yang paling membuatku terhenyak. Beberapa tahun silam, masa remaja hingga menjelang dewasa awal, dunia ini begitu kuakrabi. Tidak saja dengan menulis dan membaca puisi namun juga terlibat dalam komunitas pecinta puisi. Meskipun, semua itu tak pernah terpublikasi dan hanya tersimpan dalam lipatan sejarah hidupku sendiri.

Seperti biasa saat membaca buku baru, aku amati halaman sampul depan, layout cover, nama penulis dan sebagainya. Disitu aku temukan nama Lies W, dan kawan-kawan. Ya, itulah nama seorang sahabat lamaku, seniorku. Meskipun, interaksi dengannya tak pernah intens, namun setiap saat ada kontak, mbak Lies, begitu aku memanggilnya, aku merasakan kedekatan dan keakraban. Lengkapnya adalah Doktor Lies W, seorang ahli bio pangan dan peneliti di Kementerian Ristek dan Teknologi jebolan salah satu Universitas di Jepang. Wanita cerdas, mandiri dan bersahaja ini, hidupnya seperti puisi. Penuh penghayatan, mengalir dalam irama yang tenang namun menggelora. Itulah yang membuatku tak heran, hingga di tengah kesibukannya menggeluti dunia ilmiah yang sarat otak kiri, dia masih sempat menulis puisi yang sarat otak kanan. Sungguh keseimbangan yang tak mudah setiap orang mencapainya.

Lalu kubuka halaman demi halaman lembaran puisi tersebut. Menikmati setiap kata yang tertera hingga mengimajinasiku ke dunia seperti apa yang hendak disampaikan penulisnya. Ya, puisi bukan sekedar rangkaian kata indah. Namun, untaian kata yang sarat pesan. Lahir dari perenungan mendalam tentang hakekat segala hal. Puisi adalah hidup yang dihayati sepenuih jiwa. Kekayaan batin seseorang yang terangkai indah lewat kata. Dia tidak akan lahir dalam dunia  tergesa tanpa jeda. 

Itulah puisi yang telah lama tak kuakrabi. Aku mengabaikan bukan karena tak suka. Namun, ada saat aku merasa dunia itu tak nyata, cengeng, dan kurang bermanfaat. Hidup yang sesungguhnya penuh tantangan dalam lika likunya. Tak terselesaikan dengan hanya sebaris kata-kata yang bernama puisi. Namun, membaca kembali kumpulan puisi ini membuatku menyadari bahwa hidup ini sarat makna. Buka sekedar rutinitas kegiatan dari bangun pagi hingga tidur lagi. Setiap episodenya memperkaya batin kita. Bukanlah sesuatu yang seharusnya dilalui dengan begitu-begitu saja. Karena,  “hidup yang tak dihayati, tak layak untuk dijalani”.

Saat ngawas UAS di lantai tiga ruang kelas MAN 14 Jakarta

4 Desember 2015

Rabu, 10 Juni 2015

Hujan Bulan Juni


tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni 
dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

( Sapardi Djoko Damono, 1989)



Rabu, 27 Mei 2015

Mendadak Kaya

Wajah sumringah meliputi roman murid-murid saya siang itu. Hawa panas jam terakhir pembelajaran, jam 14.00, seolah tak lagi terasa. Mereka beraktivitias dengan penuh canda dan tawa. Ya, siang itu mereka mendadak kaya. Masing-masing mengenggam uang dalam jumlah yang lumayan besar, ratusan ribu rupiah. Seorang siswa bersorak gembira sambil berkata, Alhamdulillah saya mendadak kaya.

Siang itu adalah hari terakhir pembelajaran ekonomi di klas X sebelum mereka melaksanakan ujian kenaikan kelas. Sesuai dengan rencana, hari terakhir pembelajaran adalah saat masing-masing siswa membuka tabungannya masing-masing. Dari rumah, seluruh siswa di kelas itu sudah membawa tabungan (celengan) yang sudah diisi sejak awal pembelajaran. Dapat dibayangkan betapa antusias dan senangnya siswa mengikuti sesi membuka tabungan itu.

Kegiatan menabung itu memang saya wajibkan kepada siswa kelas X dalam rangka pembelajaran ekonomi materi uang dan bank. Masah uang tidak sekedar konsep-konsep tentang uang, namun lebih penting dari itu adalah kemampuan menghasilkan uang. Untuk siswa tingkat SLTA, menghasilkan uang bisa melalui bisnis kecil-kecilan, atau dengan menyisihkan uang jajan. Untuk tahap awal, pilihan kedua yang saya pilih. Di awal tahun pembelajaran, saya  minta murid-murid untuk menghitung kemampuannya menyisihkan uang jajan. Minimal 25% dari uang jajannya. Jumlah tersebut ditabung di celengan masing-masing di rumah, minimal 5 hari dalam seminggu.

Di akhir tahun pelajaran siang itu, masing-masing murid dapat menghitung realisasi jumlah tabungan yang mereka peroleh, dab membandingkan dengan rencana tabungan awal tahun. Beberapa siswa memperoleh tabungan jauh melebihi target. Sedangkan, sebagian besar siswa memperoleh tabungan lebih rendah dibanding target tabungan awal tahun. Selesai menghitung uang tabungannya, siswa mengisi lembar evaluasi kegiatan menabung; apa kesulitannya, apa manfaatnya, dan kesan-kesan yang mereka peroleh dalam kegiatan ini.

Menabung, erat kaitannya dengan beberapa nilai karakter diantaranya disiplin, tanggung jawab, kemandirian, dan lebih utama adalah sifat qona'ah (merasa cukup). Disiplin dalam menabung menggambarkan karakter istiqomah/konsisten terhadap apa yang sudah direncanakan. Ini juga mengindikasikan keseriusan seseorang untuk mau berjuang meraih sesuatu yang lebih baik di masa yang akan datang. Sikap disiplin berkaitan dengan tanggung jawab. Yaitu, kemampuan berlelah-lelah menanggung beban mengurangi sedikit kesenangan untuk mencapai tujuan. Karakter utama yang hendak dibangun dengan kebiasaan menabung adalah karakter mandiri dan qona'ah. Kemandirian ekonomi menjadikan seseorang untuk lebih percaya diri dan tidak berharap bantuan orang lain. Sedangkan sikap qona'ah menjadikan seseorang merasa puas dan ridho dengan apa yang dia miliki. Pendidikan karakter membentuk sikap qona'ah dapat menjadi pendidikan anti korupsi melalui pendidikan sejak dini.

Wallahu'alam




Minggu, 08 Maret 2015

Futsal

Melihat langsung pertandingan futsal antar SMP/MTs sore itu membuatku ngerti mengapa jenis olah raga ini begitu digandrungi anak laki-laki. Turnamen yang diawali  dengan acara pembukaan itu di luar dugaanku berlangsung khidmad dan seru. 32 tim yang mengikuti turnamen beserta oficialnya, bersemangat mengikuti upacara. Semangat ini masih kentara saat mereka menjadi penonton pertandingan.

Sore itu tim yang bertanding pertama kali adalah 2 tim dari SMP berdekatan di wilayah pasar rebo. Layaknya tim sepak bola profesional, ternyata sebelum bertanding masing-masing tim melakukan ritual pemanasan yang layak ditonton. Salah satu tim memperagakan gaya pemanasan seperti gerakan senam irama yan kompak. Demikian juga tim lawan.

Begitu memasuki lapangan, baik pemain terkenal, mereka masuk dengan percaya diri ditingkah tepuk keriuhan  suporter masing-masing. Kostum mereka-pun tidak asal-asalan. Mulai dari sepatu hingga kaos cukup colourfull dan serasi. Pemain kiper menggunakan kostum yang berbeda. Ya, bahkan bau harum parfum merebak ketika mereka melintas memasuki lapangan. Jadi secara keseluruhan mereka sadar akan menjadi pusat perhatian di lapangan, sehingga mesti menjaga penampilan.

Pertandingan yang ditunggu-tunggu itupun berlangsung. Keriuhan penonton mengiringi jalannya pertandingan. Akupun ikut-ikutan bersorak saat gol pertama berhasil menembus gawang lawang. Luar biasa riuhnya. Aku membayangkan bagaimana gempitanya pertandingan sepakbola tingkat nasional apalagi dunia. Tingkat SMP se-kecamatan saja begini hebohnya.

Dan, di luar dugaanku lagi, selepas gol, mereka melakukan selebrasi yang Alhamdulillah terpuji yaitu sujud syukur. Selebrasi ini selalu dilakukan setiap kali mendapatkan gol. Sayanghujan deras menghentikan pertandingan. Dan, semua pemain dan penontonpun berteduh, usailah keriuhan itu.

Jakarta, 7 Maret 2015

Selasa, 04 November 2014

Nurture vs Nature

"Bu, apakah kalau orang tuanya berbuat sesuatu anaknya akan berbuat sama seperti orang tuanya?", tanya seorang anak dengan ekspresi takut dan cemas. Saya berusaha untuk membesarkan hatinya dengan menjawab bahwa perbuatan baik atau buruk bukanlah warisan. Itu adalah murni tanggung jawab dan pilihan pribadi masing-masing pelakunya. Saya tidak tahu apakah kata-kata saya saat itu dapat meringankan kecemasannya, namun pertanyaan itu menjadi bahan renungan saya berhari-hari sejauhmana perilaku/sikap orang tua berpengaruh terhadap anak. Di saat lain seorang teman menceritakan kecemasannya karena anak gadisnya yang masih SMP sudah mulai berpacaran. Di akhir cerita dan setengah bertanya teman saya ini berkata, "apakah ini karena faktor keturunan, karena dulu ibunyapun mulai berpacaran saat SMP".

Sebagai seorang guru, saya juga sering menemukan berbagai perilaku anak yang ekstrem dari berbagai sudut pandang. Ada ekstrem pemalu, ekstrem pemarah, ekstrem penggembira dan sebagainya.  Anak yang ekstrem pemarah, maka cenderung akan mengekspresikan kemarahannya melalui kata-kata bahkan perbuatan fisik yang merugikan temannya seperti memukul, mencakar, dan serangan fisik lainnya. Sedangkan anak yang ekstrem pemalu maka dia bisa bertahan dalam kesendiriannya di lingkungan sekolah.

Seringkali menghadapi sikap tersebut kita mencoba menganalisisnya dengan cara merunut bagaimana pendidikan pertama yang dia terima di rumah. Dalam banyak kejadian, sikap-sikap anak yang ditampilkan terutama saat mereka sudah remaja adalh refleksi sikap yang pernah dia terima di keluarganya, dalam hal ini adalh orang tuanya. Anak yang mengekspresikan kemarahannya secara berlebihan baik kata-kata maupun fisik 'biasanya' pernah diperlakukan dengan cara yang sama oleh orang tuanya di rumah. Demikian juga anak yang pemalu berlebihan, bisa jadi karena pendidikan masa kecil yang diterimanya tidak menumbuhkan rasa pervaya diri dia.

Dari beberapa hal di atas pertanyaannya adalah apakah nurture (pola asuh) atau nature (keturunan) yang paling berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Apakah kedua-duanya berpengaruh. Apakah seorang anak yang pemarah karena dididik dan dilahirkan dari orang tua pemarah? Dan, orang tua yang pemarah karena juga dididik dan dilahirkan oleh orang tua pemarah, dan seterusnya kakek-buyut yang juga pemarah. Lalu sifat pemarah itu menjadi nature yang turun temurun dan menjadi nurture yang dikembangkan dalam pola asuh di keluarga tersebut sehingga melahirkan generasi-generasi berikutnya yang juga pemarah? Jika demikian manusia tak ubahnya robot masa lalu yang hanya mengulang-ngulang cetak biru orang tuanya.

Sebagai guru dan juga orang tua yang merasa perlu untuk terus menerus menanamkan optimisme kepada anak-anak tentu saja saya menentang dan tidak mau percaya dengan hal itu. Bagi saya setiap anak adalah unik dan baik. Bisa jadi faktor keturunan dan pola asuh yang diterimanya berpengaruh terhadap karakternya saat ini tapi tidak seluruhnya. Seorang anak masih sangat mungkin berubah menjadi jauh lebih baik dari apa yang diterimanya dari orang tua yang telah mendidiknya dengan cara yang salah.

Manusia adalah makhluk berkesadaran. Lingkungan yang mendidiknya tidak saja lingkungan keluarga. Orang-orang baik yang ditemuinya di lingkungan yang lebih luas dapat menjadi teladan bagi perubahan perilakunya.  Manusia yang berkesadaran  tidak akan membiarkan apa yang tidak disukainya akan diterima oleh orang lain. Seorang anak yang lembut hatinya bisa jadi dibesarkan oleh orang tua pemarah namun dia tumbuh berkesadaran bahwa sikap pemarah tidak disukainya sehingga dia tidak memperlakukan orang lain dengan marah-marah.

Dalam Islam sendiri kisah keluarga Nabi Nuh dapat menjadi contoh bagaimana sikap baik bahkan keimanan tidak dapat diturunkan. Kan'an yang lahir dan dibesarkan seorang nabipun tidak otomatis tumbuh dan besar menjadi anak yang berakhlak baik. Bahkan Allahpun kemudian menegur nabi Nuh yang mengiba memohon pertolongan Allah untuk anaknya. Bahwa meskipun Kan'an anak biologis nabi Nuh, namun pada hakekatnya dia bukan anaknya.

Kisah itu menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tetap optimis dengan segala kondisi yang saat ini kita hadapi. Khususnya, bagi yang kurang beruntung pernah mendapat pendidikan yang tidak tepat di keluarganya. Bahkan tetap menjadi kesadaran dan bahan refleksi bagi siapapun yang berasal dari keluarga baik-baik.


Wallahu'alam






Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...