Senin, 31 Juli 2017

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam. 
"Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil lalu. Nggak biasanya si bungsu ngeluh gak mau tarawih. Paling-paling dia berceloteh, kalau sholat tarawihnya gak penuh karena capek.
"Imamnya gak jelas, masak sholat tarawihnya 5 Kali." Ujarnya masih sambil menngerutu. "Bukan 5 Kali dik, tadi yang ke 5 itu witir. Witirnya 2 rokaat salam, dan 1 rokaat salam."
Tapi penjelasan saya rupanya tidak juga membuatnya mengerti.
"Aku bingung bu. Aku tadi pas sholat kentut, terus aku wudhu, nah masak baru 1 rokaat, imamnya sudah salam. Jadi aku diam, bingung terus ikut salam. Sholatku nggak sah." Gerutunya panjang lebar.
Rupanya dia belum paham kalau sholat witir boleh 3 rokaat langsung. Atau 2 rokaat, Dan 1 rokaat. Kebiasaan sehari-hari di mushola dekat rumah, sholat witir langsung 3 rokaat. "Sholatmu gak batal dik, kan sholat witir boleh 1 rokaat." Rupanya penjelasan saya sedikit melegakannya.
"Jadi tadi aku sudah sholat witir?" Tanyanya minta penegasan.
"Iya, betul." Sambil merangkul, dia berkata lagi, "Tapi aku gak suka kalau imamnya yang tadi. Aku gak mau." Ujarnya masih kesal.
Ternyata persoalan imam sholat tak hanya masalah orang dewasa. Anak kecilpun punya penilaian. Saya sendiri, sebelum berangkat tarawih kadang ngecek dulu, siapa imamnya. Karena, pernah beberapa tahun lalu, banyak jamaah yang menggerutu karena bacaan imam sering salah, tajwidnya juga salah. Alhasil, shalatpun nggak khusyu'. Jamaah laki-laki sibuk membetulkan bacaan imam. Jamaah ibu-ibu sibuk kasak kusuk.
Alhamdulillah, 2 tahun belakangan DKM sudah mulai selektif memilih imam. Tidak lagi melihat senioritas.
Seorang imam sangat besar pengaruhnya bagi semua jamaah. Bahkan anak-anak pun terpengaruh. Dalam Islam memiliki imam sudah ada aturannya, tidak sembarangan.
Imam tadi malam yang dikeluhkan si bungsu, adalah ustadz yang diundang jadi imam. Bacaannya bagus, fasih. Hanya saja dia melaksanakan sholat witir berbeda dengan kebiasaan.
"Terus kamu maunya imam sholat tarawih yang seperti apa?" Tanya saya sekedar hendak mengurangi kekesalan si bungsu.
"Aku senengnya imam yang cepet." Jawabnya sambil tersenyum dan menyebut nama Bapak Imam yang menurutnya cepet itu.
Woalah, dasar anak.
Jakarta, Ramadhan ke 13

Kesalahan Makmum

Pada saat Bapak Imam selesai membaca surah At Tien di rokaat kedua sholat Isya' beberapa waktu lalu, ...biahkamilhaakimiin...., tiba-tiba terdengar suara seorang makmum membaca, "aamiin." Dari nada berat suaranya, yang mengucapkan 'aamiin' tersebut bukan anak-anak. Imam yang yakin benar dalam memimpin sholat, melanjutkan takbir untuk ruku'. Semua jamaah mengikuti imam. Tidak ada yang mengucapkan, "subhanallah," pertanda imam melakukan kesalahan. Setelah selesai sholat, baru beberapa jamaah kasak kusuk, membicarakan insiden, "aamiin," tadi. Si Bapak yang melakukan kesalahan tadi, minta maaf sambil tersenyum malu.
Pada kesempatan shalat berjamaah berikutnya, insiden kesalahan makmum kembali terjadi. Kali ini pelakunya juga seorang Bapak. Saat imam takbir menuju duduk tasyahud akhir, seorang Bapak dengan cukup keras membaca, "subhanallah". Ucapan Bapak ini tidak diikuti jamaah lain. Bapak imam yang yakin benar, melanjutkan mebaca tahiyat akhir, lalu salam. Selesai salam, dan membaca do'a, baru ketahuan bahwa si Bapak tadi lupa jika dia makmum masbuk. Beliau minta maaf, sambil tersenyum malu-malu.
Dalam sholat berjamaah, ada aturan untuk mengingatkan imam yang melakukan kesalahan. Namun sebaliknya, jika makmum yang melakukan kesalahan, jamaah lain tidak bisa mengingatkan. Bahkan, jika menegur makmum yang melakukan kesalahan, baik dengan ucapan maupun tindakan, maka sholatnya bisa batal.
Seorang makmum yang melakukan kesalahan, tidak akan berpengaruh terhadap sholat makmum lainnya. Namun, jika imam yang melakukan kesalahan, akan berpengaruh terhadap sholat seluruh makmumnya. Hanya saja, kesalahan makmum, apalagi jika diucapkan dengan keras, dapat menganggu kekhusyukan sholat berjamaah.
Oleh karena, saat menjadi makmum, sebaiknya kita berusaha menjadi makmum yang baik dan benar. Makmum yang khusyu', konsentrasi, bisa membetulkan imam jika melakukan kesalahan. Jika makmum tidak khusyu', jangankan membetulkan imam, yang terjadi malah menganggu kekhusyukan jamaah lainnya.
Wallahu'alam

Catatan Sahur

Pagi ini seperti biasa jam 03.00 saya sudah melek. Namun, karena lagi halangan, saya membiarkan diri saya bermalas-malasan dulu di tempat tidur. Sambil masih merem, saya nikmati kesenyapan malam. Sesekali suara tiang listrik dipukul terdengar dari kejauhan. Bunyi 'klinthingan' satpam membangunkan orang sahur, lewat depan rumah.
Jam 03.15, saya beranjak bangun. Setelah ke kamar mandi, cuci muka, saya melangkahkan kaki ke dapur, menyiapkan makan sahur. Tak banyak yang mesti saya masak. Rendang ayam yang aromanya sempat membuat seisi rumah menahan air liur siang-siang kemarin, masih separoh. Saya cukup menghangatkan, menumis sayur, menggoreng tahu-tempe, dan memotong buah-buahan.
Sementara saya di dapur, seluruh penghuni rumah masih lelap tidur. Sebelum tidur, si bungsu berpesan minta dibangunin jam 3, "biar bisa makan macam-macam" katanya. Namun, melihat tidurnya pulas, saya tunda bangunkan dia jam 3.
Malam ini, entah mengapa, suasana terasa begitu tintrim. Suasana yang membuat bulu kuduk saya rada merinding. Spontan, Saya lafalkan berbagai zikir untuk menenangkan diri. Namun pikiran saya justru mengembara liar tak terkendali. Bayang-bayang gadis muda tetangga saya,yang meninggal kemarin, menari-nari di pelupuk mata. Saya merasa seperti diamati. Beberapa kali Al Fatihah saya kirimkan untuknya, tak juga menghilangkan bayangan itu. Perasaan saya, makin tak karuan. "Ah, kenapa juga suami yang biasanya sudah bangun untuk sholat malam, masih belum keluar kamar?" Batin saya.
Kembali saya lanjutkan lafalkan zikir dan do'a perlindungan dari kejahatan makhuk. Do'a ini biasanya mujarab menghilangkan rasa takut. "A'udzubiikaliimatillahi taammati min syaari maa kholaq."
Dulu saat masih sering menjadi panitia jurit malam, do'a ini menjadi bacaan wajib yang dilafalkan bersama sebelum peserta berjalan sendiri lewat tengah malam. Maka, meski panitia menakut-nakuti dengan pocong, mereka bisa melalui dengan tenang. Hadeh, ingatan tentang pocong, membuat bayang-bayang itu makin lekat di pelupuk mata.
Akhirnya saya tak tahan. Saya biarkan penggorengan masih menyala. Saya lari ke kamar si bungsu. Saya goyangkan badannya agar cepat bangun, "dik, katanya minta dibangunin jam 3, ini sudah jam 3 lewat." Bisik saya. Si bungsu menggeliat sebentar dan membuka matanya. Tak perlu lama menunggu, si bungsu bangkit dari tempat tidur dan menemani saya di dapur. Perasaan saya menjadi tenang. Saya lihat, gorengan tempe di atas kompor sudah gosong. Ya sudahlah..😰
Jakarta,
Catatan hari ke 10

Senin, 30 Januari 2017

Saat Orang Lain Menangis, Aku Tertawa (Kunci Sorga 2)

 Tadi malam sebelum tidur  si bungsu Akbar berkata; "Ibu, besok bangunin aku jam setengah lima ya"! . Pura-pura lupa aku jawab; "Kenapa?". "ya kan mau sholat subuh di mushola", jawabnya. "Subhanallah, anak sholeh ibu", ujarku sambil mengusap-usap punggungnya. Hal yang dia inginkan menjelang tidur. Tak ingin kehilangan momen, aku mulai menceritakan keutamaan sholat subuh berjamaah di masjid. "Dik, kamu tahu nggak siapa orang yang paling kaya di dunia ini?" tanyaku. Eehmm siapa ya? ujarnya balik nanya. "Ternyata, orang yang paling kaya itu bukan orang yang paling banyak hartanya, paling banyak mobilnya, paling banyak uangnya." Terus siapa bu? tanyanya. "Kata Allah, orang yang paling kaya itu adalah orang yang sholat sunnah 2 rakaat sebelum subuh, dan bagi laki-laki yang sholat subuhnya berjamaah di masjid/musholla". Orang yang sholat sunnah 2 rakaat sebelum subuh akan memiliki dunia dan seisinya, seluruh alam semesta." Jawabku. Spontan dia nyeletuk, "jadi bisa memiliki pluto, komet dan planet-planet ya bu"?. Walah...ini efek habis nonton film Iqro' Pertualangan Meraih Bintang rupanya, sampai ke pluto. Hehehe. 

Begitulah, Alhamdulillah setelah hampir dua bulan pembiasaan sholat subuh berjamaah di masjid, si bungsu Akbar sudah mulai terbiasa.  Masa-masa paling berat dalam melatih pembiasaan ini adalah minggu-minggu awal. Ibaratnya, jika kita menyerah saat itu selesailah pembiasaan ini. Terutama menghadapi rentetan keluhan sebelum berangkat hingga setelah pulang dari musholla. Dasar anaknya memang agak bawel, maka keluhan mengandung amarah itu menjadi panjang kali lebar kali tinggi, susah berhetiinnya. Dan endingnya selalu dia katakan, "hari ini beliin mainan"!. Yayaya, mainan lego yang besar inilah iming-iming hadiah kalau dia sudah 1 bulan sholat subuh berjamaah di mushola dekat rumah. Hemmm...rupanya masa satu bulan membuatnya merasa sangat lama menunggu. Maka, aku menawarkan hadiah selingan. Saat itu hadiahnya adalah setiap sabtu atau minggu ditemeni berenang. Hadiah selingan ini rupanya sedikit bisa meredakan keluhannya. Karena memang dia sangat senang berenang, hanya kadang ayahnya malas mengantar.

Selain adanya hadiah selingan, untuk menguatkan program pembiasaan ini, saya meminta tolong kepada guru kelas di SD nya untuk sering-sering memotivasi murid-muridnya agar sholat subuh berjamaah di musholla. Saya ceritakan kepada gurunya, kalo sekarang Akbar sedang saya biasakan untuk sholat subuh berjamaah di musholla. Alhamdulillah, karena sekolah di SDIT maka guru kelasnya merespon positif pembiasaan ini. Bahkan, suatu hari Akbar cerita kalo gurunya nanya. siapa yang sholat subuhnya berjamaah di masjid. "Terus yang angkat tangan aku". Katanya, dan dia sebutkan beberapa nama temannya yang juga angkat tangan. Alhamdulillah. Bahkan, suatu ketika dia berkata lugu, "Ibu, aku mau sholat bukan karena hadiah"!. Subhanallah, betul dik, hadiah Allah jauh lebih baik dan utama daripada hadiah ayah dan ibu", kataku.

Pagi tadi, pulang dari sholat subuh di musholla, saya tanya ke Akbar,"tadi sholat sunnah nggak sebelum subuh?". Dan, dia menjawab enggak. "Aku ngantuk, katanya. "Yah, nggak jadi deh memiliki pluto" jawabku. Lalu ayahnya nimpali, "Dik, pada saat manusia lahir, semua orang di sekelilingnya tertawa, tapi dia menangis. Tapi, nanti, kalau kita meninggal, saat sekeliling kita menangis kita tertawa karena melihat segala kenikmatan dari Allah yang diberikan kepada orang yang rajin sholat sunnah sebelum subuh." Ayahnya menambahkan, "tiba-tiba datang sendiri sepeda yang bagus", dan Akbarpun tertawa cekikikan melihat ekspresi ayahnya ketika bersiul memanggil sepeda. Soal mendongeng yang ekspresif, ayahnya memang jago. 

Yah, Bismillah program kunci sorga ini mulai sedikit ditingkatkan levelnya. Semoga Allah SWT, memudahkan langkah kami sekeluarga menggapai kehidupan yang barokah hingga sorgaNya kelak. Aamiin yaa Robbal'alamiin.


Senin, 28 November 2016

Kunci Sorga

Si bungsu ini memang lagi masa-masanya penuh rasa ingin tahu. Apapun yang menarik perhatiannya akan menjadi bahan pertanyaan yang nggak akan berhenti begitu saja dengan satu jawabannya. Pertanyaan lanjutannya bisa panjang dan lama. Beberapa postingan teman tentang 'keinginan-tahuan' anak usia 7 tahun akhirnya juga aku alami. Pernah suatu hari, mulut kecilnya bertanya "ibu, ML itu apa?". Hiks. "Maksudnya?", tanya saya balik, "iya ML itu apa, sambil menunjukkan tulisan di susu kotak yang sedang diminumnya. Oalah, baru ngeh saya, persis dengan postingan yang saya baca. Jadi saya tidak perlu panik dengan pertanyaannya. Suatu hari lagi, dia lagi asyik dengan kegiatan menirukan berbagai suara. Yang membuat saya terengah-engah karena harus meladeni ocehannya hampir 2 jam adalah setiap dia selesai menirukan suara, dia minta saya untuk menilai apakah sudah mirip atau belum. Mulai dari suara berbagai macam kendaraan, berbagai macam binatang dan sebagainya. Sebagai orang tua memang harus sabar, jika salah menanggapi bisa mematikan daya kreatifitasnya.

Si bungsu ini juga sudah saya biasakan untuk sholat 5 waktu sejak dari TK. Memasuki SD, saat usianya 7 tahun, saya bilang bahwa mulai usia 7 tahun sholatnya harus penuh. Beberapa hari lalu, sebelum mulai sholat jamaah bersama saya di rumah, tiba-tiba mulut  kecilnya bertanya: "Ibu, sholat itu kunci sorga ya?". Tak mau kehilangan momen, saya langsung jawab pertanyaannya; "Iya, nanti yang ditanya pertama kali di akhirat adalah sholat kita, kalau sholat kita baik, nggak bolong-bolong maka kita akan masuk sorga." Trus dia kembali bertanya, aku pernah nggak sholat isya sekali karena ketiduran, gimana kuncinya?" Yah, nggak boleh diulang lagi, Karena kalau keseringan ninggalin sholat, nanti kunci sorganya rusak, nggak bisa dipakai untuk membuka pintu sorga lagi". "Trus, kalo nggak bisa buka pintu sorga, kita masuk kemana?" Tanyanya lagi. "Ya, masuk pintu neraka" jawab saya cepat, sambil menjelaskan kalo ketiduran belum sholat, begitu bangun langsung mengganti sholat yang ditinggalkan." Sejak itu, dia akan marah kalo sampai lupa/terlambat dibangunkan untuk sholat berjamaah.

Begitulah, mendidik di masa kecil bagai mengukir di atas batu. Lebih mudah tertanam dengan baik dalam memori anak. Sebagai orang tua, yang masih punya anak kecil, sebaiknya kita tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menanamkan nilai-nilai agama dan moral kepada anak kita. Insyaa Allah akan diserap tanpa banyak membantah. Yang saya alami sendiri, kadang rasa sayang/kasihan kepada anak membuat kita kurang disiplin dalam menanamkan nilai. Contoh, pernah sekali saya 'sengaja' tidak membangunkan dia untuk sholat Isya, karena saya nggak tega melihat tidurnya pulas karena kelelahan. Namun, ternyata besoknya, dia marah, dan meminta saya untuk membangunkan dengan segala cara agar dia bisa sholat. Subhanallah, ternyata dia lebih tegar daripada fisiknya yang cungkring.

Memahami bahwa momen pendidikan agama dan karakter harus dimulai sejak usia kecil, saya mulai percaya diri (baca: tegaan) untuk mulai menanamkan berbagai nilai. Kuncinya memang teladan. Alhamdulillah, sudah tiap hari, si bungsu bangun sebelum subuh. Sebelum tidur, dia selalu berpesan "bangunin aku ya bu, jangan ditinggal sholat subuhnya!". Hiks. Jam berapapun aku bangun, dia ikut bangun. (Jadi inget video "children see, children do"). 

Saat ini, mulai tadi pagi, saya akan memulai eksperimen menanamkan nilai agama bahwa "laki-laki itu sunahnya sholat subuh di masjid". Meskipun sudah bangun sebelum subuh, si bungsu ini nggak pernah mau diajak ayahnya sholat subuh di mushola. Alasannya, 'Ibu juga nggak sholat di mushola"! (Hadeuh, bener2 "al umm madrosati ula"). Berbagai penjelasan masih belum bisa masuk dalam nalar dia. Barangkali, iming-iming surga dan seisinya akan berada ditangganya masih jauh dari jangkauan dia. Ujung-ujungnya, saya harus memberikan hadiah yang paling mungkin membuatnya tertarik. "Oke, kalo Akbar sholat subuh di mushola setiap hari selama sebulan, ibu akan kasih hadiah mainan lego yang besar".! Hadiah ini rupanya tokcer, dia langsung menyambar kopyahnya mengikuti langkah ayahnya ke mushola untuk sholat subuh. Pulang dari mushola, dia mulai menghitung hari untuk dapat hadiah mainan. Hehehe. Pada saat yang tepat nanti, ketika dia sudah terbiasa sholat subuh di mushola, saya akan menanamkan nilai bahwa hadiah terbaik adalah dari Allah. 

Subhanallah, sesuatu banget menjadi orang tua.


Selasa, 04 Oktober 2016

Training Online

Beberapa bulan terakhir ini saya tertarik mengikuti beberapa training online yang sekarang sepertinya sedang tren. Training online mengatasi berbagai kendala yang mungkin terjadi pada training offline. Misalnya waktu, dengan training online peserta tidak harus meninggalkan rumah atau tempat kerja yang membutuhkan waktu, tenaga dan biaya. Saat video conference yang terjadwal sekali seminggu, peserta dapat mengikutinya dengan santai sambil nungguin anak belajar bahkan nonton acara TV favoritnya. Modal training online cukup dengan laptop, headset, dan koneksi internet. Dengan kemudahan itu, saya akhirnya memilih training online untuk melakukan pengembangan diri.
 
Training online yang pertama saya ikuti adalah training klas digital yang diadakan oleh SEAMOLEC. Training ini memperkenalkan penggunaan aplikasi edmodo untuk dipergunakan sebagai sarana klas digital. Dengan klas digital guru dapat menyampaikan materi maupun ujian secara online. Alhamdulillah hasil dari training ini sudah saya manfaatkan untuk mengadakan tes-tes online. 

Training berikutnya adalah animasi drawing. Training berlangsung hampir 3 minggu untuk membantu guru membuat animasi pembelajaran dengan video scribe. Fasilitas video scribe versi trial dapat diunduh dan dimanfaatkan untuk latihan pembuatan video animasi. Training ini juga dilaksanakan oleh SEAMOLEC. Alhamdulillah saya juga sudah menyelesaikan dan lulus di training online ke dua ini. Berikut ini video animasi hasil training online yang saya buat. Video ini dapat dilihat di youtube.





Cukup bermanfaat untuk video pembelajaran biar anak-anak murid senang belajar.



Senin, 19 September 2016

Dunia yang Bergegas

"Ibu, ibu kenapa sih kalo pagi selalu buru-buru?", pertanyaan si bungsu suatu kali. Si bungsu ini setiap hari berangkat ke sekolah bersama saya, karena sekolahnya searah dengan sekolah tempat saya mengajar. Jam 06.15, kami berdua sudah on motor cycle to school. Jarak ke sekolah yang hanya beberapa ratus meter dari rumah, membuat kami bisa berangkat mendekati jam 06.30, saat bel masuk sekolah DKI dibunyikan. Sesampai di sekolahnya, setelah cium tangan saya biasanya si bungsu akan bertanya tentang berbagai hal, dan jawaban saya cuma satu, "oke"!. dan sayapun bergegas menuju tempat saya mengajar. Biasanya sekitar 1 atau 2 menit menjelang 06.30, saya sudah sampai di sekolah. Saya bahkan tak sempat untuk menjawab berbagai pertanyaan sibungsu, menuntun tangannya hingga sampai batas mengantar, memberikan pesan-pesan, dan melambaikan tangan. Sesuatu yang saya perhatikan dilakukan oleh bebrapa orang tua yang mengantar anaknya ke sekolah.

Di jalanan, manusia juga bergegas menembus kepadatan lalu lintas, agar tidak terlambat. Sayapun melakukan hal yang sama. Sesekali menyalip, sesekali menerobos, sesekali tetap ngebut meski melewati polisi tidur. Bahkan tak jarang harus selip-selipan dengan murid-murid saya yang juga bergegas. Setelah memarkir motorp, harus bergegas ke tempat finger absen. Dan baru bisa mengambil nafas lega, karena tidak terlambat. Anak-anak muridpun begitu, mereka harus ngebut, berlari, bergegas ke sekolah, kalo tidak pasti terlambat.

Sesampai di sekolah, sambil istirahat membuka hp yang sudah dipenuhi dengan berbagai berita melalui wa, bbm. fb, line, instagram dan lain-lain. Berbagai posting bersliweran dengan cepat, tanpa sempat memberi ruang untuk mencerna. Berita-berita itu akan berganti detik demi detik tanpa henti. Dan kita membacanya tanpa penghayatan. Banyak teman, banyak berita dan semua berlalu begitu saja. Berita gembira, berita duka cita, bercampur jadi satu membuat kita tertawa dan menangis dalam waktu bersamaan.

Hilangnya Jiwa yang Peka

Segala kesemrawutan itu menjadikan kita manusia yang setiap hari harus bergegas. Dengan anak bergegas, dengan kawan bergegas, dengan pasangan bergegas, dengan pekerjaan bergegas. Namun apakah kebergegasan ini membuat segalanya lebih cepat? Lebih efektif? lebih baik? Sepertinya tidak. Bahkan, yang terjadi adalah jiwa-jiwa yang lelah, anak-anak yang kurang memiliki kepekaan, orang tua yang selalu tidak punya waktu untuk anak-anaknya. Siswa-siswa yang hanya mengerti bagaimana mengerjakan soal ujian dan mendapatkan nilai rapor yang bagus, Guru-guru yang dituntut untuk mengejar ketuntasan mengajar, tanpa peduli pelajaran apa yang bisa diperoleh anak didiknya.

Terkadang, saya merindukan saat dunia belum ada hp. Ketika komunikasi masih menggunakan surat yang dikirm melalui pos. Surat berlembar-lembar yang sarat pesan dan kaya cerita. Yang kedatangannya ditunggu-tunggu, mungkin dalam beberapa hari, beberapa bulan, atau bahkan beberapa tahun. Komunikasi yang tidak terlalu intens namun berkesan. Bukan komunikasi yang cepat, singkat, lalu dilupakan seperti saat ini. 

Namun dunia tidak pernah surut ke belakang. Inilah dunia yang kita hadapi sekarang. Butuh perjuangan untuk tetap bisa menghidupkan hati di dunia yang bergegas..


Jakarta, suatu siang

Rabu, 10 Agustus 2016

Hots

Saat ini dunia pendidikan khususnya para guru sedikit heboh dan menghebohkan Hots. Yang belum mengerti tentu bertanya-tanya apa maksudnya ini. Sebelum bertanya-tanya lebih lanjut, hots yang dimaksud disini adalah higher order thinking skills yang disingkat HOTS. 

Konon, anak-anak Indonesia lemah dalam kemampuan hots ini. Terbukti dari hasil skor tes PISA, tes internasional standar untuk mengukur kemampuan siswa, Indonesia selalu menempati posisi buncit. Jadilah, pendidikan dijadikan kendaraan untuk memperbaiki kualitas siswa Indonesia di ajang tes Internasional.

Hasil evaluasi pendidikan di ranah penilaian, kebanyakan tes-tes yang dibuat guru hanya mengukur kemampuan mengingat siswa. Kemampuan ini adalah kemampuan terendah dalam tahapan berfikir kognitif Blomm. Oleh karena itu, ketika dihadapkan dengan tes tes yang menguji daya nalar, analisis, sintesis, siswa Indonesia KO. Nah, berdasarkan evaluasi tersebut, saat ini guru-guru sedang menghebohkan yang Hots itu. Apa, mengapa, bagaimana, dan untuk siapa Hots.

Seperti apakah soal yang Hots itu? Soal yang hots adalah soal yang memerlukan kemampuan berfikir tinggi dalam mengerjakannya. Singkatnya, soal yang membuat siswa menalar, menganalisis dan mengsintesis permasalahan yang tertera dalam soal. Meskipun memerlukan higher order thinking, soal Hots itu tidak berarti soal itu sulit. Contohnya sebagai berikut;\

Soal tidak Hots tapi sulit: 
      Kapan dan dimana presiden Soekarno dilahirkan?

Soal Hots tapi tidak sulit:
      Beda waktu antara Jakarta dengan Tokyo Jepang adalah 2 jam. Jika jam kerja harian Jakarta dan         Tokyo sama yaitu jam 08.00 sampai dengan jam 16.00. Jam berapa saja saya bisa menelpon rekan       kerja saya di Tokyo saat masih di jam kantor waktu Tokyo.

jadi, soal Hots bisa beberapa level. Materi yang mudahpun bisa dibuat menjadi soal yang hots. Oleh karena itu, soal Hots dapat diberikan mulai jenjang SD hingga jenjang pendidikan tinggi.

Demikian sharing tentang soal Hots

Digital Class

Kali ini saya akan sharing tentang perkembangan klas maya yang saya kelola. Berawal dari training online yang diselenggarakan oleh SEAMOLEC selama sebulan, terbentuklah kelas maya untuk kelas-kelas yang saya ajar di tahun 2016 ini. Alhamdulillah ada 9 kelas maya, meskipun yang aktif baru 3 kelas di klas XII IPS 1, 2, dan 3 untuk mata pelajaran ekonomi/akuntansi. Klas maya ini menggunakan aplikasi gratis dari edmodo.



Alhamdulillah belum 1 bulan aktivitas kelas digital cukup aktif. Seluruh siswa klas XII IPS sudah mendaftar dengan akun siswa dan melengkapi profile akun masing-masing. Sebagai latihan beraktivitas di kelas maya, saya meng-share quiz untuk latihan mengerjakan kuis online(computer based test). Di kuis latihan ini, targetnya siswa familier mengerjakan quis secara online. Dari latihan ini, mayoritas kendala yang dihadapi siswa adalah masalah teknis. Siswa belum terbiasa dengan fitur-fitur yang disediakan edmodo, sementara waktu mengerjakan quis terus berjalan. Akhirnya quis belum bisa diselesaikan. 



Namun hal penting yang perlu diubah adalah mind set.  Kemudahan kelas maya adalah dapat diakses dimanapun dan kapanpun, bahkan dengan suasana santai di rumah. Namun jika mengerjakan Quis, siswa harus memiliki mind set seperti mengerjakan soal ujian di ruang kelas yang dibatasi oleh watu dan memerlukan persiapan. Rupanya mind set ini belum terlatih, sehingga mayoritas siswa kehabisan waktu sebelum soal quiz selesai dikerjakan.

Dengan evaluasi tersebut, saya kembali mengirim quis untuk pengambilan nilai melalui edmodo. Alhamdulillah, quis kedua ini lumayan sukses. Dari 120 siswa, 86 siswa mengerjakan soal. Dan, nilai yang diperoleh sebagian besar sudah di atas KKM. Demikian juga ketika saya membuat polling tentang respon belajar di klas maya, rata-rata siswa menjawab senang. Alhamdulillah.

Klas maya bukanlah klas utama dalam pendidikan jenjang menengah. Tetap, pendidikan yang baik adalah pendidikan dengan interaksi tatap muka. Karena, pendidikan tidak sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, namun juga mendidik perilaku. Namun demikian, perkembangan di dunia saat ini yang digital minded di berbagai sektor kehidupan mesti direspon oleh dunia pendidikan. Oleh karena itu, kombinasi yang baik antara kelas tatap muka dengan kelas maya diharapkan dapat menjawab tantangan zaman.



----


Kamis, 17 Maret 2016

Berkata Jujur

Berkata jujur itu melegakan. Jika itu suatu kesalahan, jujur mengakui kesalahan membuat kita tidak perlu repot-repot mencari-cari alasan pembenaran kesalahan kita. Membela diri dengan berbagai argumentasi yang sebenarnya semakin meyakinkan bentuk kesalahan kita. Tentu lebih mudah mengatakan: ya, saya salah, dan bersiap menerima resiko kesalahan kita.

Jika itu suatu kebenaran, jujur mengakui apa yang kita anggap benar menguatkan hati dan tidak membuat kita membohongi diri sendiri. Apakah setiap kebenaran harus diungkapkan? Pada kenyataannya, tidak semua kebenaran yang diungkapkan membawa kebaikan. Kita mesti melihat situasi dan kondisi apa, bagaimana, dan kepada siapa kebenaran diungkapkan. Jika kebenaran yang akan kita ungkapkan menyebabkan pihak lain tersinggung, mungkin karena cara mengungkapkannya yang salah. Atau, belum waktunya kebenaran tersebut diungkapkan.Jadi mesti difikirkan bagaimana kebenaran dapat diungkapkan secara benar pula.

Jika itu suatu kelemahan, jujur mengakui kelemahan diri membuat kita paham apa yang mesti diperbaiki. Pengakuan akan kelemahan dan kekurangan diri menjauhkan kita dari sikap sombong dan tinggi hati. Senantiasa meyakini bahwa sehebat apapun kita pasti memiliki kekurangan, demikian juga orang lain. Sehingga kita tidak terjebak pada kekaguman mutlak pada makhluk, maupun rendah diri terhadap kehebatan orang lain.

Jadi, mulai saat ini berkatalah jujur. Minimal terhadap diri sendiri dan terutama kepada Allah.

Salam

Minggu, 10 Januari 2016

Rapor

Saat pembagian rapor menjadi saat yang ditunggu-tunggu oleh siswa dan orang tua siswa tentunya. Rasa harap-harap cemas kerap menghantui siswa sesaat sebelum menerima rapor. Bagi siswa yang pandai, ada rasa harap-harap cemas apakah nilai rapornya lebih baik atau tidak. Bagi siswa yang kurang, ada rasa harap-harap cemas bagaimanakah nilai yang berhasil diraihnya. Apalagi saat penerimaan rapor di semester  dua yang melaporkan naik/tidak naik kelas seorang siswa. Beberapa siswa dihinggapi rasa khawatir tidak naik kelas.

Bagi guru wali kelas seperti saya, saat pembagian rapor juga menjadi saat-saat yang menimbulkan kecemasan. Orang tua siswa berharap guru wali kelas dapat menjawab semua tanda tanya tentang bagaimana anaknya di sekolah. Tidak saja masalah prestasi akademik, semangat belajar, aktivitas kegiatan ekstrakurikuler bahkan terkadang masalah hubungan antar teman dan sebagainya. Sebagian besar orang tua berharap anaknya mendapat nilai bagus di rapor, menempati peringkat 10 besar dan berbagai prestasi lainnya. Hingga terkadang akan memarahi anaknya jika ternyata nilai rapor yang diperoleh anaknya tidak sesuai harapan.

Wali kelas di sekolah menengah atas bukan seperti guru kelas di Sekolah Dasar yang tiap hari mengajar siswanya. Di SMA/MA wali kelas hanya mengajar di jam-jam sesuai bidang studi yang diajarkan saja. Pertemuan di luar jam pelajaran itu hanya bisa sesekali dilakukan di saat jam istirahat atau jika ada jam pelajaran kosong. Dengan jumlah siswa per kelas sebanyak 40 siswa dan intensitas pertemuan yang terbatas, tidak mudah seorang wali kelas dapat mengenal dengan baik masing-masing siswa di kelas binaanya. Dus, menghadapi orang tua dengan segala rasa ingin tahunya saat pembagian rapor menjadi tantangan tersendiri.

Oleh karena itu saat bagi rapor, saya sampaikan ke orang tua bahwa nilai-nilai yang tertera di rapor putra-putri bapak ibu, tidak menjadi jaminan sukses tidaknya kehidupan putra-putri bapak ibu kelak. Bagi bapak/ibu yang nilai rapor anaknya bagus, semoga nilai ini dapat menjadi bekal yang mempermudah langkah kesuksesannya kelak. Bagi bapak/ibu yang nilai rapor anaknya tidak sesuai harapan, mari sama-sama kita kenali potensi anak-anak kita. Insyaa Allah mereka akan sukses sesuai dengan bekal potensinya masing-masing. Dengan begitu, saya berharap setiap orang tua tetap merasa bangga dan bersyukur menerima rapor anaknya dengan apapun raihan yang saat ini diperoleh putra-putrinya.

Wallahu'alam




Kamis, 03 Desember 2015

PUISI

Terhenyak, itulah ekspresi pertamaku saat menerima empat buku kumpulan puisi yang dikirim oleh seorang sahabat lama. Terhenyak, bukan saja karena buku kumpulan puisi ini adalah buku puisi hasil karya sahabat itu, seseorang yang semangat hidupnya menginspirasi. Namun, kesadaran betapa lama aku tak berinteraksi dengan dunia yang satu inilah yang paling membuatku terhenyak. Beberapa tahun silam, masa remaja hingga menjelang dewasa awal, dunia ini begitu kuakrabi. Tidak saja dengan menulis dan membaca puisi namun juga terlibat dalam komunitas pecinta puisi. Meskipun, semua itu tak pernah terpublikasi dan hanya tersimpan dalam lipatan sejarah hidupku sendiri.

Seperti biasa saat membaca buku baru, aku amati halaman sampul depan, layout cover, nama penulis dan sebagainya. Disitu aku temukan nama Lies W, dan kawan-kawan. Ya, itulah nama seorang sahabat lamaku, seniorku. Meskipun, interaksi dengannya tak pernah intens, namun setiap saat ada kontak, mbak Lies, begitu aku memanggilnya, aku merasakan kedekatan dan keakraban. Lengkapnya adalah Doktor Lies W, seorang ahli bio pangan dan peneliti di Kementerian Ristek dan Teknologi jebolan salah satu Universitas di Jepang. Wanita cerdas, mandiri dan bersahaja ini, hidupnya seperti puisi. Penuh penghayatan, mengalir dalam irama yang tenang namun menggelora. Itulah yang membuatku tak heran, hingga di tengah kesibukannya menggeluti dunia ilmiah yang sarat otak kiri, dia masih sempat menulis puisi yang sarat otak kanan. Sungguh keseimbangan yang tak mudah setiap orang mencapainya.

Lalu kubuka halaman demi halaman lembaran puisi tersebut. Menikmati setiap kata yang tertera hingga mengimajinasiku ke dunia seperti apa yang hendak disampaikan penulisnya. Ya, puisi bukan sekedar rangkaian kata indah. Namun, untaian kata yang sarat pesan. Lahir dari perenungan mendalam tentang hakekat segala hal. Puisi adalah hidup yang dihayati sepenuih jiwa. Kekayaan batin seseorang yang terangkai indah lewat kata. Dia tidak akan lahir dalam dunia  tergesa tanpa jeda. 

Itulah puisi yang telah lama tak kuakrabi. Aku mengabaikan bukan karena tak suka. Namun, ada saat aku merasa dunia itu tak nyata, cengeng, dan kurang bermanfaat. Hidup yang sesungguhnya penuh tantangan dalam lika likunya. Tak terselesaikan dengan hanya sebaris kata-kata yang bernama puisi. Namun, membaca kembali kumpulan puisi ini membuatku menyadari bahwa hidup ini sarat makna. Buka sekedar rutinitas kegiatan dari bangun pagi hingga tidur lagi. Setiap episodenya memperkaya batin kita. Bukanlah sesuatu yang seharusnya dilalui dengan begitu-begitu saja. Karena,  “hidup yang tak dihayati, tak layak untuk dijalani”.

Saat ngawas UAS di lantai tiga ruang kelas MAN 14 Jakarta

4 Desember 2015

Rabu, 10 Juni 2015

Hujan Bulan Juni


tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni 
dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

( Sapardi Djoko Damono, 1989)



Rabu, 27 Mei 2015

Mendadak Kaya

Wajah sumringah meliputi roman murid-murid saya siang itu. Hawa panas jam terakhir pembelajaran, jam 14.00, seolah tak lagi terasa. Mereka beraktivitias dengan penuh canda dan tawa. Ya, siang itu mereka mendadak kaya. Masing-masing mengenggam uang dalam jumlah yang lumayan besar, ratusan ribu rupiah. Seorang siswa bersorak gembira sambil berkata, Alhamdulillah saya mendadak kaya.

Siang itu adalah hari terakhir pembelajaran ekonomi di klas X sebelum mereka melaksanakan ujian kenaikan kelas. Sesuai dengan rencana, hari terakhir pembelajaran adalah saat masing-masing siswa membuka tabungannya masing-masing. Dari rumah, seluruh siswa di kelas itu sudah membawa tabungan (celengan) yang sudah diisi sejak awal pembelajaran. Dapat dibayangkan betapa antusias dan senangnya siswa mengikuti sesi membuka tabungan itu.

Kegiatan menabung itu memang saya wajibkan kepada siswa kelas X dalam rangka pembelajaran ekonomi materi uang dan bank. Masah uang tidak sekedar konsep-konsep tentang uang, namun lebih penting dari itu adalah kemampuan menghasilkan uang. Untuk siswa tingkat SLTA, menghasilkan uang bisa melalui bisnis kecil-kecilan, atau dengan menyisihkan uang jajan. Untuk tahap awal, pilihan kedua yang saya pilih. Di awal tahun pembelajaran, saya  minta murid-murid untuk menghitung kemampuannya menyisihkan uang jajan. Minimal 25% dari uang jajannya. Jumlah tersebut ditabung di celengan masing-masing di rumah, minimal 5 hari dalam seminggu.

Di akhir tahun pelajaran siang itu, masing-masing murid dapat menghitung realisasi jumlah tabungan yang mereka peroleh, dab membandingkan dengan rencana tabungan awal tahun. Beberapa siswa memperoleh tabungan jauh melebihi target. Sedangkan, sebagian besar siswa memperoleh tabungan lebih rendah dibanding target tabungan awal tahun. Selesai menghitung uang tabungannya, siswa mengisi lembar evaluasi kegiatan menabung; apa kesulitannya, apa manfaatnya, dan kesan-kesan yang mereka peroleh dalam kegiatan ini.

Menabung, erat kaitannya dengan beberapa nilai karakter diantaranya disiplin, tanggung jawab, kemandirian, dan lebih utama adalah sifat qona'ah (merasa cukup). Disiplin dalam menabung menggambarkan karakter istiqomah/konsisten terhadap apa yang sudah direncanakan. Ini juga mengindikasikan keseriusan seseorang untuk mau berjuang meraih sesuatu yang lebih baik di masa yang akan datang. Sikap disiplin berkaitan dengan tanggung jawab. Yaitu, kemampuan berlelah-lelah menanggung beban mengurangi sedikit kesenangan untuk mencapai tujuan. Karakter utama yang hendak dibangun dengan kebiasaan menabung adalah karakter mandiri dan qona'ah. Kemandirian ekonomi menjadikan seseorang untuk lebih percaya diri dan tidak berharap bantuan orang lain. Sedangkan sikap qona'ah menjadikan seseorang merasa puas dan ridho dengan apa yang dia miliki. Pendidikan karakter membentuk sikap qona'ah dapat menjadi pendidikan anti korupsi melalui pendidikan sejak dini.

Wallahu'alam




Minggu, 08 Maret 2015

Futsal

Melihat langsung pertandingan futsal antar SMP/MTs sore itu membuatku ngerti mengapa jenis olah raga ini begitu digandrungi anak laki-laki. Turnamen yang diawali  dengan acara pembukaan itu di luar dugaanku berlangsung khidmad dan seru. 32 tim yang mengikuti turnamen beserta oficialnya, bersemangat mengikuti upacara. Semangat ini masih kentara saat mereka menjadi penonton pertandingan.

Sore itu tim yang bertanding pertama kali adalah 2 tim dari SMP berdekatan di wilayah pasar rebo. Layaknya tim sepak bola profesional, ternyata sebelum bertanding masing-masing tim melakukan ritual pemanasan yang layak ditonton. Salah satu tim memperagakan gaya pemanasan seperti gerakan senam irama yan kompak. Demikian juga tim lawan.

Begitu memasuki lapangan, baik pemain terkenal, mereka masuk dengan percaya diri ditingkah tepuk keriuhan  suporter masing-masing. Kostum mereka-pun tidak asal-asalan. Mulai dari sepatu hingga kaos cukup colourfull dan serasi. Pemain kiper menggunakan kostum yang berbeda. Ya, bahkan bau harum parfum merebak ketika mereka melintas memasuki lapangan. Jadi secara keseluruhan mereka sadar akan menjadi pusat perhatian di lapangan, sehingga mesti menjaga penampilan.

Pertandingan yang ditunggu-tunggu itupun berlangsung. Keriuhan penonton mengiringi jalannya pertandingan. Akupun ikut-ikutan bersorak saat gol pertama berhasil menembus gawang lawang. Luar biasa riuhnya. Aku membayangkan bagaimana gempitanya pertandingan sepakbola tingkat nasional apalagi dunia. Tingkat SMP se-kecamatan saja begini hebohnya.

Dan, di luar dugaanku lagi, selepas gol, mereka melakukan selebrasi yang Alhamdulillah terpuji yaitu sujud syukur. Selebrasi ini selalu dilakukan setiap kali mendapatkan gol. Sayanghujan deras menghentikan pertandingan. Dan, semua pemain dan penontonpun berteduh, usailah keriuhan itu.

Jakarta, 7 Maret 2015

Selasa, 04 November 2014

Nurture vs Nature

"Bu, apakah kalau orang tuanya berbuat sesuatu anaknya akan berbuat sama seperti orang tuanya?", tanya seorang anak dengan ekspresi takut dan cemas. Saya berusaha untuk membesarkan hatinya dengan menjawab bahwa perbuatan baik atau buruk bukanlah warisan. Itu adalah murni tanggung jawab dan pilihan pribadi masing-masing pelakunya. Saya tidak tahu apakah kata-kata saya saat itu dapat meringankan kecemasannya, namun pertanyaan itu menjadi bahan renungan saya berhari-hari sejauhmana perilaku/sikap orang tua berpengaruh terhadap anak. Di saat lain seorang teman menceritakan kecemasannya karena anak gadisnya yang masih SMP sudah mulai berpacaran. Di akhir cerita dan setengah bertanya teman saya ini berkata, "apakah ini karena faktor keturunan, karena dulu ibunyapun mulai berpacaran saat SMP".

Sebagai seorang guru, saya juga sering menemukan berbagai perilaku anak yang ekstrem dari berbagai sudut pandang. Ada ekstrem pemalu, ekstrem pemarah, ekstrem penggembira dan sebagainya.  Anak yang ekstrem pemarah, maka cenderung akan mengekspresikan kemarahannya melalui kata-kata bahkan perbuatan fisik yang merugikan temannya seperti memukul, mencakar, dan serangan fisik lainnya. Sedangkan anak yang ekstrem pemalu maka dia bisa bertahan dalam kesendiriannya di lingkungan sekolah.

Seringkali menghadapi sikap tersebut kita mencoba menganalisisnya dengan cara merunut bagaimana pendidikan pertama yang dia terima di rumah. Dalam banyak kejadian, sikap-sikap anak yang ditampilkan terutama saat mereka sudah remaja adalh refleksi sikap yang pernah dia terima di keluarganya, dalam hal ini adalh orang tuanya. Anak yang mengekspresikan kemarahannya secara berlebihan baik kata-kata maupun fisik 'biasanya' pernah diperlakukan dengan cara yang sama oleh orang tuanya di rumah. Demikian juga anak yang pemalu berlebihan, bisa jadi karena pendidikan masa kecil yang diterimanya tidak menumbuhkan rasa pervaya diri dia.

Dari beberapa hal di atas pertanyaannya adalah apakah nurture (pola asuh) atau nature (keturunan) yang paling berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Apakah kedua-duanya berpengaruh. Apakah seorang anak yang pemarah karena dididik dan dilahirkan dari orang tua pemarah? Dan, orang tua yang pemarah karena juga dididik dan dilahirkan oleh orang tua pemarah, dan seterusnya kakek-buyut yang juga pemarah. Lalu sifat pemarah itu menjadi nature yang turun temurun dan menjadi nurture yang dikembangkan dalam pola asuh di keluarga tersebut sehingga melahirkan generasi-generasi berikutnya yang juga pemarah? Jika demikian manusia tak ubahnya robot masa lalu yang hanya mengulang-ngulang cetak biru orang tuanya.

Sebagai guru dan juga orang tua yang merasa perlu untuk terus menerus menanamkan optimisme kepada anak-anak tentu saja saya menentang dan tidak mau percaya dengan hal itu. Bagi saya setiap anak adalah unik dan baik. Bisa jadi faktor keturunan dan pola asuh yang diterimanya berpengaruh terhadap karakternya saat ini tapi tidak seluruhnya. Seorang anak masih sangat mungkin berubah menjadi jauh lebih baik dari apa yang diterimanya dari orang tua yang telah mendidiknya dengan cara yang salah.

Manusia adalah makhluk berkesadaran. Lingkungan yang mendidiknya tidak saja lingkungan keluarga. Orang-orang baik yang ditemuinya di lingkungan yang lebih luas dapat menjadi teladan bagi perubahan perilakunya.  Manusia yang berkesadaran  tidak akan membiarkan apa yang tidak disukainya akan diterima oleh orang lain. Seorang anak yang lembut hatinya bisa jadi dibesarkan oleh orang tua pemarah namun dia tumbuh berkesadaran bahwa sikap pemarah tidak disukainya sehingga dia tidak memperlakukan orang lain dengan marah-marah.

Dalam Islam sendiri kisah keluarga Nabi Nuh dapat menjadi contoh bagaimana sikap baik bahkan keimanan tidak dapat diturunkan. Kan'an yang lahir dan dibesarkan seorang nabipun tidak otomatis tumbuh dan besar menjadi anak yang berakhlak baik. Bahkan Allahpun kemudian menegur nabi Nuh yang mengiba memohon pertolongan Allah untuk anaknya. Bahwa meskipun Kan'an anak biologis nabi Nuh, namun pada hakekatnya dia bukan anaknya.

Kisah itu menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tetap optimis dengan segala kondisi yang saat ini kita hadapi. Khususnya, bagi yang kurang beruntung pernah mendapat pendidikan yang tidak tepat di keluarganya. Bahkan tetap menjadi kesadaran dan bahan refleksi bagi siapapun yang berasal dari keluarga baik-baik.


Wallahu'alam






Selasa, 10 Juni 2014

Balada T*i Kucing

Ini adalah salah satu kisah di keluarga kami, yang saat mengingatnya kami bisa tertawa geli sendiri, namun ada pelajaran yang bisa dipetik. Bahwa segala apa yang ada di sekitar kita dapat menjadi pelajaran adalah benar adanya. Firman Allah; "bahkan tidak sehelai daunpun jatuh, kecuali atas ijin Allah". Kisah ini adalah kejadian nyata yang kami alami khususnya suami saya alami di rumah. Dan, suami saya khususnya mendapat pelajaran dari super bau tak sedap t*i kucing. Kisahnya begini.

Malam itu lepas Maghrib, suami baru pulang dari menunaikan shalat Maghrib berjama'ah di mushola dekat rumah. Sampai di rumah, suami meminta saya untuk menelpon anak pertama yang belum pulang. "Tolong bilang ke Aul agar hati-hati melalui jalan di depan rumah karena banyak bertebaran t*i kucing", begitu pesannya. Suami merasa perlu mengingatkan untuk berhati-hati, karena jika si "kuning" itu terlindas roda motor maka akan berceceran sepanjang garasi dan meninggalkan aroma "semerbak" yang luar biasa dan tahan lama. Sayapun segera menghubungi Aul dan menyampaikan pesan ayahnya. Selesai menelpon, kami beraktivitas seperti biasa, dan merasa tenang. Begitulah, karena di sekitar rumah kami banyak berkeliaran kucing liar dan piaraan tetangga, maka kamipun harus ikut menanggung akibatnya yaitu t*i kucing itu.

Selang beberapa waktu, terdengar deru motor Aul melalui jalan depan rumah. Entah mengapa terdengar ngebut dan terburu-buru. Refleks kamipun saling memandang, dan bertanya-tanya gerangan apa yang terjadi. Suami segera beranjak untuk membukakan pintu garasi. Dan ternyata apa yang dipesankan ayahnya agar berhati-hati, malah benar-benar terjadi. Roda motor Aul melindasi beberapa onggok t*i kucing dan menyebarkannya dari halaman samping hingga ke garasi. Aroma menyengat itu langsung menguar kemana-mana.

Tak tergambarkan ekspresi kesal suami menyaksikan hal itu. Dan terjadilah percakapan seru karena Aul sibuk membela diri. Whatever, aroma itu tak mungkin dibiarkan saja. Suami segera mengambil ember dan meminta Aul dan adiknya membatu membersihkan ceceran t*i kucing itu. Aul yang pulang sudah dalam kondisi lelah dan berasa mau muntah mencium aroma itu, menyatakan tak sanggup ikut membersihkan. Saya sebenarnya ingin diam saja tidak ikut campur. Namun mendengar semua itu saya keluar untuk menengahi dan menyampaikan bahwa hari sudah malam maka membersihkannya besok saja. Namun, suami bersikukuh untuk membersihkannya saat itu juga. Saya tak tega melihatnya capai sendirian, akhirnya turun tangan mengambil pel dan pembersih lantai. Selesai membersihkan lantai, suami mencuci motor Aul. Sungguh malam yang sibuk untuk hal yang sangat-sangat sepele t*i kucing. Selesai membersihkan semuanya,  kami semua diam. Suami tidak saja capai tapi juga lelah. Aul diam merasa bersalah tak tahu harus berbuat apa. 

Esok harinya, seperti biasa saya dan suami selalu memperbincangkan segala hal. Tentunya termasuk peristiwa t*i kucing itu. Tiba-tiba suami berkata, "saya salah, seharusnya saya langsung membersihkan t*i kucing itu, bukan cuma sekedar mengingatkan." "Akibatnya malah semakin banyak yang harus dibersihkan, juga rasa kesal", ujarnya melanjutkan. Saya mendengarnya sambil diam-diam menyimpan rasa geli mengingat peristiwa tadi malam. Kata suami, "t*i kucing itu sebenarnya bisa jadi simbol kemungkaran. Ketika melihat kemungkaran sikap seseorang ada 3; 1) melawan kemungkaran dengan perbuatan/perkataan; 2) sekedar mengatakan oh ini ada kemungkaran; atau 3) mendiamkan saja melihat kemungkaran. Sikap terbaik adalah yang pertama. Subhanallah, suami bisa menarik pelajaran bahkan dari barang yang menjijikkan.

Sejak itu, setiap ada ta* kucing di jalanan depan rumah maupun di halaman, suami langsung membersihkan. Bahkan, terkadang saat pulang dari kantor dan melihat t*i kucing ada di jalanan suami langsung membersihkan dengan sukarela. Tentu saja tidak sekedar tentang si kuning itu, dalam segala hal; got mampet, sungai meluap, sampah berserakan, suami langsung berinisiatif untuk berbuat. Ya, mulai dari kecil, dari yang dekat, dan mulai dari sekarang. Sekarang saya bisa tertawa mengingat balada t*i kucing di malam itu.

Wallahu'alam bii showab





Kamis, 01 Mei 2014

Refleksi Hardiknas 2014

Menjelang hari pendidikan 2 Mei 2014 ini dunia pendidikan di tanah air kembali dihentakkan oleh kasus tragis kekerasan seksual terhadap anak TK. Kita semua terhenyak, marah, dan pilu mengikuti perkembangan kasus tersebut. Anak usia TK yang seharusnya mengalami pendidikan yang menyenangkan justru menjadi korban oleh orang yang sehari-hari berinteraksi dengannya. Tentu tak bisa kita bayangkan trauma psikologis yang dialami anak tersebut, selain dampak penyakit yang harus dideritanya. Bagaimana kegeraman dan kepedihan hati orang tuanya yang tentunya telah berharap banyak dengan menyekolahkan anaknya di sekolah mahal, namun yang dialaminya justru sebaliknya.

Berbagai pertanyaan memenuhi benak kita; bagaimana kasus tragis ini terjadi di sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak-anak? Lebih-lebih lagi di sekolah dengan fasilitas wooww sekaliber JIS yang bayarannya per bulan $2.500 atau sekitar Rp. 27.000.000,00. Secara fisik JIS tidak saja memiliki kelengkapan sarana prasara pendidikan kelas internasional, bahkan juga sistem pendidikan yang tentunya juga berkelas internasional. Bahkan, informasi yang saya peroleh, orang luar yang tidak berkepentingan langsung dengan pendidikan tidak mudah ke sekolah tersebut tanpa ada janji sebelumnya. Ini berarti, sistem keamanan di sekolah tersebut cukup rapi. Namun, kembali ke pertanyaan di atas,  ancaman itu ternyata berasal dari dalam lingkungan sekolah sendiri, oleh orang yang sama sekali tidak diduga akan melakukan kejahatan terhadap anak-anak.

Pendidikan yang Sesungguhnya

Konsep pendidikan menerapkan tiga ranah pendidikan yaitu kognitif, psikomotorik, dan afektif (didalamnya adalah pendidikan moral dan akhlak keagamaan atau dikenal dengan pendidikan karakter). Sekolah sebagai lembaga pendidikan mesti mengusung ketiga ranah ini dalam proses pendidikan di sekolah. Namun demikian secara umum ranah kognitif menjadi prioritas dan tolok ukur keberhasilan sekolah. Prosentase kelulusan, kemenangan dalam kompetisi akademik, diterimanya sisa di sekolah/universitas terbaik pada jenjang pendidikan sekolah selanjutnya menjadi tolok ukur keberhasilan sekolah. Dan semua itu adalah domain kognitif. Orang tua-pun cenderung melihat keberhasilan pendidikan anak-anaknya dari angka-angka yang tertera di rapor. Maka tak jarang orang tua sibuk memasukkan anak-anaknya di lembaga bimbingan belajar untuk menambah jam belajar anak. Orang tua yang mampu berbondong-bondong menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah elit berbayar mahal seperti JIS dengan harapan anaknya memperoleh prestasi akademik membanggakan.

"Kesalahan" paradigma pendidikan yang kognitif minded tersebut terjadi dimana-mana. Sekolah-sekolah mahal semacam JIS cukup banyak bertebaran di tanah air. Bahkan sebelumnya sekolah-sekolah negeri-pun dengan label SBI (sekolah berstandar internasional) juga mengenakan  biaya pendidikan yang cukup mahal. Biaya pendidikan mahal tersebut untuk membiayai seluruh operasional pendidikan seperti gaji guru, belanja sarana/prasara sekolah, pemeliharaan sarpras, pemenuhan kelengkapan media pembelajaran dsb.

Secara tidak langsung pendidikan berbiaya mahal itu seperti menciptakan paradigma money oriented di sekolah. Hal itu terlihat dari adanya divisi marketing yang bertugas "menjual" nama sekolah. Bahkan seperti contoh kasus JIS di atas, sekolah memanfaatkan tenaga kebersihan outsourcing yang notabene tenaga kebersihan tersebut adalah pihak luar yang diijinkan memasuki dunia keseharian sekolah. Jika sekolah itu ibarat rumah bagi seluruh penghuni sekolah, dengan tenaga outsourcing maka sekolah membiarkan orang asing menginap di rumah kita.

Jika sekolah memahami bahwa pengelolaan sekolah itu berbeda dengan pengelolaan perusahaan, maka pengelola sekolah akan menjadikan semua elemen di sekolah sebagai wahana pendidikan bagi siswa. Siswa tidak hanya belajar dari guru-gurunya, tapi juga belajar dari petugas kebersihan, satpam, penjual makanan di kantin sekolah dan semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Sekolah dapat memfasilitasi model interaksi siswa dengan semua pihak tersebut melalui kegiatan pembiasaan diri. Misalnya, dalam masa orientasi siswa baru, sekolah tidak hanya mengenalkan siswa dengan guru-gurunya tapi juga mengenalkan kakak-kakak kelasnya, satpam sekolah, petugas kebersihan sekolah, kantin, dll. Selanjutnya siswa dapat dilibatkan dalam program kebersihan sekolah serta penegakan disiplin dan tata tertib sekolah.

Pendidikan di sekolah itu tidak hanya saat proses belajar mengajar di kelas, namun selama jam sekolah dari pagi sampai siswa pulang adalah proses pendidikan. Oleh karena itu pengelola sekolah harus memastikan bahwa semua yang terlibat di sekolah (satpam, petugas kebersihan, petugas kantin, dll) adalah orang-orang yang bisa menjadi teladan berperilaku. Mereka adalah orang-orang yang secara intens harus dimenej oleh kepala sekolah agar jalannya seirama dengan visi misi sekolah. Mereka adalah bagian dari proses pendidikan di sekolah yang dituntut untuk berperilaku mendidik.

Di sekolah-sekolah reguler (sekolah negeri secara umum dan sekolah swasta berbayar murah), biasanya siswa mengenal baik satpam sekolah, petugas kebersihan sekolah bahkan pedagang kantin di sekolahnya. Di madrasah tempat saya mengajar, anak-anak mengenal dan memanggil satpam sekolah dengan panggilan 'pak'e' karena akrab. Anak-anak juga mengenal 4 petugas kebersihan kami yang sudah bertahun-tahun bekerja di sini.

Kondisi tersebut barangkali tidak akan ditemui di sekolah berbayar mahal seperti JIS. Jangankan mengenal petugas kebersihan atau satpam, nama-nama seluruh gurunyapun bisa jadi mereka tidak kenal.Pendidikan yang kognitif dan money oriented tersebut telah mengasingkan siswa dari lingkungannya. Siswa hanya dituntut belajar dan belajar materi pelajaran di kelas. Siswa tidak diberi kesempatan untuk belajar dari lingkungannya termasuk lingkungan terdekatnya yaitu sekolah. Sungguh sangat disayangkan, bisa jadi mereka akan menjadi anak-anak yang pandai secara akademik, namun jiwa mereka kering dan terasing.

Kasus JIS  menjadi tamparan yang keras bagi dunia pendidikan. Sudah seharusnya kita kembali berbenah dan berubah, sudah benarkah arah pendidikan kita.

Wallahu'alam





Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...